Ekonomi Sirkular

Inovasi BRIN: Genting dan Sepatu dari Limbah Sawit

Inovasi genting komposit dan sepatu dari limbah sawit oleh BRIN

Pada acara yang berlangsung di Istana Kepresidenan pada Kamis (6/8), Badan Riset dan Nasional () memamerkan berbagai inovasi yang menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto, termasuk produk berbahan limbah seperti dan sepatu yang terbuat dari limbah kelapa sawit.

Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa Prabowo telah meminta pengembangan genting ramah lingkungan yang memanfaatkan bahan baku lokal. “Kami telah menciptakan teknologi genting yang berbasis , kelapa, dan serabut kelapa. Produk ini tidak hanya ringan, tetapi juga ramah lingkungan,” ungkap Arif dalam pernyataannya.

Presiden Prabowo menunjukkan minat khusus terhadap inovasi sepatu yang memanfaatkan limbah sawit, yang dianggapnya dapat mendukung perekonomian masyarakat. “Industri sepatu adalah industri rakyat yang perlu dikembangkan,” tegasnya.

Soal bagaimana limbah tersebut diolah, BRIN menjelaskan bahwa limbah biomassa seperti serat kelapa dan limbah sawit menjadi bahan baku untuk memproduksi genting komposit. Genting ini dirancang ringan namun kuat, yang sangat penting untuk meningkatkan keamanan bangunan, terutama di daerah rawan gempa. “Sering kali, saat gempa, penghuni rumah terluka karena genting berat yang jatuh. Kita memiliki potensi biomassa yang melimpah di Indonesia, tetapi belum dimanfaatkan optimal,” jelas Kepala Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Sukma Surya Kusumah.

Pengolahan genting dimulai dengan menghancurkan limbah biomassa menjadi partikel kecil yang diseleksi untuk ukuran seragam. Setelah itu, partikel dikeringkan hingga kadar air mencapai 5-8 persen sebelum dicampur dengan perekat alami. Perekat ini berasal dari bahan-bahan seperti tanin, asam sitrat, dan limbah industri pengolahan tebu. Campuran tersebut kemudian dipadatkan dan diproses menjadi genting komposit.

Hasil uji lapangan menunjukkan bahwa produk ini memiliki daya tahan yang baik. Penelitian terus dilakukan untuk memastikan umur produk yang diperkirakan dapat mencapai 10-20 tahun. Menariknya, genting ini hanya memiliki berat sekitar 4 kilogram per meter persegi, yang delapan kali lebih ringan dibandingkan genting tanah liat, namun mampu menahan beban hingga 50 kilogram. Selain itu, genting ini juga tahan air dan memiliki ketahanan api yang lebih baik.

Sukma menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya berpotensi mendukung target Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada 2060, tetapi juga dapat berkontribusi pada pembangunan perumahan nasional.

Sementara itu, sepatu yang berbahan limbah sawit dikembangkan dengan memanfaatkan abu boiler, residu dari proses produksi minyak kelapa sawit. “Abu boiler yang dibersihkan kemudian diekstraksi pada suhu rendah. Proses ini memisahkan cairan ekstrak silika dari padatannya, yang selanjutnya diolah menjadi nanopartikel silika biogenik untuk pembuatan rubber foam dan sol sepatu,” ujar Hoerudin dari Pusat Riset Agroindustri BRIN.

Penggunaan limbah sawit sebagai bahan baku memiliki banyak keuntungan, termasuk pemanfaatan sumber daya terbarukan dan rendahnya energi produksi. Namun, pemanfaatan bahan baku alternatif ini masih terbatas di Indonesia, di mana industri alas kaki sebagian besar bergantung pada silika impor. Oleh karena itu, pengembangan nanobiosilika dari limbah sawit sangat penting untuk mendukung industri dalam negeri.

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *